DETAIL ARTIKEL

BEST PRACTICE PEMBELAJARAN KIMIA BERORIENTASI HOTS DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING MATERI KONSEP MOL DAN KONSENTRASI LARUTAN KELAS X BKP A SMK NEGERI 3 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020

BEST PRACTICE PEMBELAJARAN KIMIA BERORIENTASI HOTS DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING MATERI KONSEP MOL DAN KONSENTRASI LARUTAN KELAS X BKP A SMK NEGERI 3 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020


BEST PRACTICE

PEMBELAJARAN KIMIA BERORIENTASI HOTS DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING MATERI KONSEP MOL DAN KONSENTRASI LARUTAN KELAS X BKP A SMK NEGERI 3 MATARAM                                                           TAHUN PELAJARAN 2019/2020

                                                            Oleh:

BAEDURIYAH, S.Pd

 

Laporan lengkap dapat diakses melalui link : https://drive.google.com/file/d/1fb_Ulybbqkyyl0VUMMxPfDPzqYAq-f9F/view?usp=sharing

 

 

Di Indonesia muatan kurikulum yang berorientasi pada pengembangan berbagai keterampilan berpikir, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai diperhatikan dengan diterapkannya Kurikulum 2013. Dengan demikian keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) menjadi tujuan utama dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran kimia.

Kegiatan  siswa yang dominan dalam pembelajaran adalah mendengar, mencatat materi, serta mengerjakan latihan soal yang dijelaskan dan dituliskan oleh guru di papan tulis, siswa kurang dilibatkan dalam menemukan konsep sehingga pembelajaran menjadi monoton dan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Aktivitas  yang  relevan dalam pembelajaran  seperti mengemukakan pendapat, bertanya pada guru, dan saling berbagi informasi dengan teman jarang muncul.

Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar dalam belajar Kimia tercipta situasi belajar aktif. Sehingga mendorong dan mengarahkan peserta didik  memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.  Bukan hanya mendengar, mencatat, tetapi aktif dalam proses berpikir.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu maka proses pembelajarannya juga harus memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktifitas. Aktifitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis melalui model pembelajaran tertentu.  Dalam kurikulum 2013 ada beberapa model pembelajaran yang direkomendasikan dapat menjadi perantara dalam mendukung aktifitas dan  proses  berpikir tingkat tinggi tersebut diantaranya model pembelajaran berbasis masalah (PBL), model pembelajaran discovery learning (DL) dan model pembelajaran berbasis proyek (PjBL).

Discovery learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan ketika guru ingin menanamkan konsep pada materi yang diajarkan. Discovery merupakan cara belajar dengan membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik untuk mengeksplorasi dan belajar sendiri. Pemahaman suatu konsep didapat peserta didik melalui proses yang lebih menekankan kepada proses penemuan. Peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri. Kemudian mengorganisasi atau membentuk apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.

Setelah melaksanakan pembelajaran dengan model Disscovery Learning, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar peserta didik lebih meningkat. Praktik pembelajaran yang berhasil baik ini penulis sampaikan sebagai sebuah Laporan Best Practice dengan judul  “Pembelajaran Kimia Berorientasi HOTS dengan model Disscovery Learning materi Konsep Mol dan Konsentrasi Larutan pada peserta didik kelas X BKP A SMK Negeri 3 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020”.

Jenis Kegiatan

Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan Best Practice ini adalah kegiatan pembelajaran kimia model Discovery Learning yang berorientasi HOTS materi Konsep Mol dan Konsentrasi Larutan pada peserta didik kelas X BKP A.

Manfaat Kegiatan

Manfaat penulisan Best Practice ini adalah untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme guru dalam menulis pengalaman-pengalaman selama kegiatan pembelajaran di kelasnya terutama pembelajaran yang berorientasi HOTS.

Tujuan dan Sasaran

Tujuan penulisan Best Practice ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman terbaik  penulis dalam menerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking skills (HOTS).

Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah peserta didik kelas X BKP A semester ganjil SMK Negeri 3 Mataram sebanyak 32 orang.

Bahan/Materi Kegiatan

Bahan/materi yang digunakan dalam Best Practice pembelajaran ini adalah materi Konsep Mol dan Konsentrasi Larutan dengan kompetensi dasar sebagai berikut:

KD 3.5

Menerapkan hukum – hukum kimia dalam perhitungan kimia

KD 4.5

Menggunakan hukum – hukum dasar kimia dalam perhitungan kimia

 

Cara Melaksanakan Kegiatan

Cara yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Best Practice ini adalah penerapan pembelajaran berorientasi HOTS melalui model pembelajaran  Discovery Learning.

Media dan Instrumen

Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik pembelajaran ini adalah :

Buku Paket Kimia teknologi dan rekayasa untuk SMK kelas X
Internet
LKPD

Sedangkan Instrumen penilaian yang digunakan dalam Best Practice ini ada 3 macam yaitu instrumen untuk mengamati proses pembelajaran  berupa lembar observasi sikap, instrumen untuk mengamati kinerja dalam menelaah benda-benda yang disediakan berupa lembar penilaian kinerja dan instrumen untuk melihat hasil belajar peserta didik dengan menggunakan LKPD berbentuk uraian dengan prosedural dan tes tertulis

Waktu dan Tempat Kegiatan

Best Practice ini dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2019 bertempat di kelas X BKP A SMK Negeri 3 Mataram

Hasil

Hasil yang dapat dilaporkan dari pelaksanaan praktik Best Practice ini diuraikan sebagai berikut:

Proses pembelajaran kimia yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berlangsung aktif dan lancar. Peserta didik menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak Discovery Learning mengharuskan peserta didik aktif selama proses pembelajaran. 
Pembelajaran kimia yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning diawali dengan pemberian rangsangan/stimulus kepada peserta didik dengan memusatkan perhatian pada saat transfer knowledge. Peserta didik diberikan pemahaman tentang satuan jumlah zat dalam perhitungan kimia dalam bentuk konsep mol dan konsentrasi larutan, kemudian mengarahkan kepada permasalahan yang akan di diskusikan. Selanjutnya guru membagi kelas menjadi 6 kelompok diskusi dan memberi kesempatan  peserta didik untuk bertanya tentang permasalahan tersebut sebagai bentuk critical thingking.
Penerapan model pembelajaran Discovery Learning meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. Guru menyampaikan LKPD, yakni menyelesaikan masalah konsep mol dan konsentrasi larutan,  sebagai bentuk kegiatan mengidentifikasi pernyataan masalah (problem statement). Dalam pembelajaran ini pemahaman konsep tentang perhitungan kimia benar-benar dibangun oleh peserta didik melalui telaah peta konsep, buku materi dan diskusi yang menuntut kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.
Tahap pembelajaran berikutnya adalah peserta secara berkelompok melakukan diskusi unntuk menyelesaikan masalah yang terdapat pada LKPD dengan saling mengumpulkan data sehingga penyelesaian masalah  dapat tuntas di kerjakan di dalam kelompok tersebut. Hasil diskusi (pengolahan data) kemudian di tulis sebagai hasil kerja kelompok (data procesing) dan Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi pada kasus lain pada  LKPD (verification) kemudian dipresentasikan oleh salah satu anggota kelompok
Tahap terakhir yang dilakukan pada praktik pembelajaran terbaik ini  adalah  Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi). Guru bersama peserta didik menarik kesimpulan dari seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dengan menyampaikan beberapa kekeliruan atau ketidaksempurnaan dalam menyelesaian permasalahan yang ada pada LKPD dan solusinya.

Masalah yang Dihadapi

Masalah yang dihadapi selama praktik pembelajaran discovery learning adalah motivasi  peserta didik dalam mengikuti setiap tahap kegiatan pembelajaran masih rendah karena masih adanya anggapan kurangnya manfaat dalam mempelajari kimia. Hal ini ditandai masih banyak siswa yang tidak ikut tertantang dalam menyelesaikan LKPD yang diberikan. Di samping itu, peserta didik memiliki latar belakang kemampuan dasar kimia yang masih minim sehingga nampak kebingungan dalam menyelesaikan LKPD yang diberikan.

Cara Mengatasi Masalah

Agar peserta didik termotivasi dalam kegiatan pembelajaran  bahwa pembelajaran kimia dengan Discovery Learning dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS akan membuat peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat peserta didik mau belajar dengan HOTS.

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Pembelajaran Kimia dengan model Discovery Learning (DL) berorientasi HOTS layak dijadikan Best Practice, karena dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. 
Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah di desain secara sistematis dan cermat, pembelajaran kimia dengan model pembelajaran Discovery Learning (DL) yang dilaksanakan tidak sekedar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.

Rekomendasi

Berdasarkan hasil Best Practice pembelajaran kimia dengan model pembelajaran Discovery Learning (DL), berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.

Guru seharusnya mengajar sesuai dengan desain pembelajaran seperti dalam RPP. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih terarah dan sistematis serta dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan memberi kesempatan bagi guru utuk mendesiminasikan Best Practicenya yang akan menambah wawasan guru lain tentang pembelajaran HOTS.