Peka Yuk! Mereka Butuh Kita Tuntun, Bukan Kita Tuntut

By: Haryanti,S.Pd | Posted on: 2023-11-25 12:57:14

Sumber: https://bit.ly/3G4mRVD 

SMEKTI KOMPAK : Berbicara tentang pendidikan memang tidak ada habisnya. Pendidikan dengan berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya. Tidak mengenal istilah tebang pilih. Baik di kota-kota besar maupun di pelosok negeri, pendidikan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Begitu banyak kebijakan yang sudah diterapkan terkait proses pendidikan di hampir semua negara, termasuk di negeri kita ini. Negara-negara Adidaya seperti, Amerika Serikat, Jepang, China dan Finlandia menerapkan sistem pendidikan yang berorientasi pada siswa dengan mengedepankan kualitas lulusan demi calon pekerja yang memiliki potensi istimewa. 

Di negeri kita sendiri, Indonesia. Sepanjang penerapan sistem pendidikan sampai saat ini, menghadapi permasalah yang cukup kompleks. Mulai dari persoalan kesejahteraan guru, pemerolehan akses pendidikan yang merata, sarana dan prasarana yang belum memadai, kompetensi guru yang terbatas, masalah adab dan etika, sistem pendidikan yang belum mampu dijalankan secara optimal, sampai dengan permasalahan miskonsepsi kurikulum. Permasalahan-permasalahan di bidang pendidikan ini, seakan menjadi suguhan yang lumrah di negari kita.

Pendidikan tahun 90-an tentu berbeda jauh dengan pendidikan di era modern seperti sekarang ini. Tahun 90-an, terbentuknya karakter dan terjaminnya masa depan seseorang tergantung pada tinggi atau tidaknya pendidikan. Generasi yang mengenyam pendidikan pada masa tersebut, merasakan pendidikan baik di sekolah maupun di rumah dengan cara yang beraneka ragam. Pendidikan yang bersifat mengayomi, penuh kasih sayang meskipun terkesan sedikit kasar namun masih dalam batas yang wajar, serta lebih mengutamakan aspek keagamaan. 

Hukuman fisik kerap diberikan guru kepada murid-muridnya. Dijemur di bawah tiang bendera, disuruh berdiri di depan kelas sambil memegang telinga sendiri, dicubit, dijewer, dipukul menggunakan penggaris kayu, membersihkan toilet sekolah, ditampar, dan berbagai hukuman lainnya. Lalu, apakah orang tua marah? Tidak! Alih-alih orang tua mau membela, justru di rumah mereka akan semakin mendapatkan hukuman yang sama bahkan jauh lebih berat dari yang diberikan oleh guru. 

Perlakuan-perlakuan seperti itu, baik dari guru maupun orang tua, justru membuat murid belajar dan berusaha untuk terus memperbaiki diri. Mental semakin kuat, usaha untuk terus belajar semakin meningkat, tidak mudah menyerah, patuh kepada guru maupun orang tua, dan masih banyak lagi. 

 

Sumber: https://bit.ly/3FXjzDs

Berbading terbalik dengan pendidikan era modern seperti sekarang ini. Murid jarang bahkan tidak pernah sama sekali merasakan apa yang dialami murid zaman dulu. Dari segi sistem yang dijalankan, proses yang terjadi di lapangan, peran serta guru dan orang tua, sampai dengan hasil dari pendidikan itu sendiri, harus diperjuangkan hingga akhir. Tentu saja perubahan yang terjadi di dunia pendidikan seperti sekarang ini, tidak hanya diinginkan oleh beberapa orang saja, namun sudah menjadi cita-cita seluruh warga masyarakat demi kemajuan bangsa. Sebagaimana yang seringkali kita dengar, pendidikan merupakan tonggak masa depan generasi penerus bangsa. 

Baca juga : Kekuatan Terbesar Dari Cinta

Murid di era modern ini yang akrab disebut Generasi Z atau Gen-Z, tidak sama dengan murid zaman 90-an dulu. Mereka memiliki beberapa keunikan. Pertama, mereka lahir dan hidup dengan jutaan referensi yang mudah diakses. Hampir semua murid memiliki gadget. Kedua, tidak suka dengan hal-hal yang standar atau biasa-biasa saja. mereka cenderung menyukai hal-hal yang tidak lazim bahkan ekstrim. Ketiga, menyukai multitasking atau mengerjakan lebih dari satu kegiatan dalam waktu bersamaan. Pada saat belajar, mereka kadang sambil bermain game, memukul-mukul meja, dan lain sebagainya. 

Keempat, mereka generasi penuntut artinya mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan, pola pembelajaran, tatanan sosial, menuntut komunitas yang tidak mengekang. Kelima, mereka adalah individu yang berfikir kritis dan logis. Mereka tidak takut mengkritik guru. Dan yang keenam, mereka adalah murid yang memiliki prinsip respect are earned, artinya  "Anda akan saya hormati, jika Anda layak dihormati".

Dengan berbagai keunikan tersebut, sehingga Gen Z menginginkan suasana pembelajaran yang sedikit berbeda. Contohnya, mereka menginginkan pembelajaran dengan materi yang kontekstual, relevan atau dekat dengan lingkungan sekitar mereka; guru yang bersahabat dengan mereka bukan guru yang harus ditakuti; dan juga mereka menyukai proses pembelajaran yang fleksibel, penuh tantangan dan tidak banyak tuntutan atau aturan.  Bahkan tidak jarang mereka berani menguji guru dengan pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembelajaran, sehingga guru harus menyiapkan mental untuk memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan.

Baca juga : PEMBELAJARAN BERBASIS RISET, SALAH SATU ALTERNATIF PELAKSANAAN UKK DI TEKNIK PEMESINAN SMK NEGERI 3 MATARAM

Melihat perubahan di dunia pendidikan yang seperti ini, sebagai guru, kita harus dapat menyesuaikan diri. Artinya, berusaha mengikuti cara belajar mereka. Sebagai guru kita memposisikan diri sebagai rekan atau partner belajar mereka, bersikap terbuka dan tidak anti dengan berbagai keunikan dan tingkah polah mereka. Namun, bukan berarti setiap apa yang mereka lakukan adalah benar dan harus kita turuti. 

Di sinilah peran kita sebagai guru yang sesungguhnya yaitu bagaimana caranya kita menuntun mereka sehingga menjadi pribadi yang berkarakter. Peka yuk! Mereka adalah generasi yang luar biasa dengan berbagai talenta, bakat dan minat yang melekat pada diri mereka masing-masing. Mereka adalah para pembelajar era digital yang butuh dituntun bukan dituntut.

Mataram, 21 November 2023


Choose Colour